Deskripsi
Buku ini lahir dari sebuah keresahan yang lama
mengganggu hati. Setiap hari, di grup-grup WhatsApp, di
beranda Instagram, di kotak pesan, saya menyaksikan pola
yang sama terulang tanpa henti. Pelaku UMKM yang
bersemangat tapi kelelahan. Reseller yang rajin tapi
ditinggalkan teman-temannya. Pebisnis yang bekerja keras
tapi tidak kunjung melihat hasil yang sepadan. Mereka semua
berjuang dengan cara yang sama: mendorong lebih keras,
memposting lebih banyak, mengejar lebih agresif. Dan mereka
semua terjebak dalam satu cerita yang tidak mereka sadari.
Cerita bahwa menjual harus bermakna memaksa, dan bahwa
kegigihan selalu diukur dari seberapa sering mereka
mengganggu orang lain.
Di sisi lain, saya juga menyaksikan cerita-cerita yang
berbeda. Pedagang kecil yang tokonya selalu ramai tanpa
promo. Konsultan muda yang klienmya penuh tanpa iklan.
Pemilik warung yang pelanggannya setia puluhan tahun tanpa
program diskon. Ibu rumah tangga yang produknya diborong
tanpa pernah sekali pun membanjiri feed dengan postingan
promosi. Mereka semua punya sesuatu yang tidak dimiliki
yang pertama. Bukan modal yang lebih besar. Bukan tim yang
lebih banyak. Tapi cara pikir yang berbeda tentang apa artinya
berjualan.
Buku ini adalah hasil refleksi dari pengamatan panjang
tentang dua jenis pelaku bisnis ini. Saya tidak pernah
berpretensi menemukan konsep baru. Prinsip-prinsip yang
tertulis di buku ini sudah lama dikenal oleh para pedagang
tradisional di pasar-pasar rakyat Indonesia, jauh sebelum
istilah marketing digital ditemukan. Yang saya lakukan
hanyalah merangkum, menyusun, dan menghadirkannya
dengan bahasa yang relevan untuk pelaku UMKM hari ini.





Ulasan
Belum ada ulasan.