Deskripsi
Novel ini lahir dari gerimis yang tiap malam jatuh di
seng kos saya. Dari suara “ting” notifikasi yang lebih
nyaring dari adzan. Dari warung kopi yang isinya orang
orang lelah, tapi jarinya masih sanggup mencaci orang lain
yang sama lelahnya.
Saya nulis Panggung Boneka bukan karena saya
paling paham politik. Saya cuma ojol yang kebetulan suka
ngintip. Saya lihat: kita ini disuruh ribut tiap hari. Ribut A vs
B, C vs D. Sementara di lantai 88, ada yang ngopi sambil
ngatur bidak. Kita capek, dia ketawa. Kita miskin, dia catat
laba.





Ulasan
Belum ada ulasan.