Deskripsi
Buku SURYALAYA, SPRITUALITAS YANG MEMBUMI JEJAK TASAWUF TQN DI TENGAH KEHIDUPAN MODERN kita memasuki sebuah era yang penuh ketidakpastian. Sarat paradoks dan ambiguitas. Disekap krisis multidimensi. Jalan keluarnya tidak lain: kembali ke Sumber. Berpulang pada Akar. Kata Ibnu Arabi krisis yang menimpa makrokosmos (jagat besar/dunia), pangkalnya karena manusia semakin menjauh dari lapisan mikrokosmos (jagat alit/sukma). Kata Kanjeng Nabi, istafti qalbak. Minta fatwalah pada hati. Hati sebagai panglima dan anggota tubuh adalah prajurit. Ketika hatinya lurus, maka tubuh akan mengarah pada tindakan positif. Demikian juga
sebaliknya.
Tarekat, sebagaimana terbaca pada Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah, dihadirkan tidak lain agar manusia sampai pada keinsyafan eksistensial seperti itu. Lebih peka lagi mendengar bisikan nurani. Mensucikan diri sebagai awal melakukan perubahan. Begitu pentingnya mendengar suara hati sehingga al-Quran mempromosikannya dalam frasa yang
beragam. Sebut saja shadr, qalb, fu’ad, lubb dan puncaknya ana. Kita dididik bukan hanya mengetahui realitas lahir yang pengetahuannya berwatak ilmul yaqin (ulul abshar), mengerahkan nalar di mana ilmunya bersifat ’ainul yaqin (ulun nuha), namun juga menyelami kedalaman lautan batin di mana karakternya adalah haqqul yaqin dan orangnya dikatakan ulul albab.
Buku ini adalah ikhtiar memaknai tarekat dengan cara
sederhana sehingga mudah dipahami khalayak. Diturunkan dari
ajaran guru agung Syekh Abdul Qadir al-Jilani yang kemudian mata air spiritualismenya di Nusantara, salah satunya mengalir
pada sosok kharismatik Pangersa Abah Sepuh (KH Abdullah
Mubarak bin Nurmuhammad, RA) dan Pengersa Abah Anom (KH
A. Sohibul Wafa Tajul Arifi, RA).





Ulasan
Belum ada ulasan.